HARIANSUMEDANG.COM – Bundaran di depan markas Polres Sumedang lama dikenal sebagai Bundaran Binokasih.
Di tengah bundaran berdiri tugu mahkota kerajaan sebagai gambaran Mahkota Binokasih.
Sebegitu membanggakannya Mahkota Binokasih bagi masyarakat Sumedang, karena ada benang merah sejarah didalamnya.
Menurut Luki Juhari, Ketua Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang, Mahkota Binokasih telah berumur lama ada di Sumedang.
” Mahkota Binokasih merupakan repleksi dari simbol legitimasi kemaharajaan Sunda, ” ungkap Luki Juhari.
Menurutnya, Mahkota Binokasih telah dijamin keasliannya, dan kini telah menjadi cagar budaya.
” Yang digunakan pada acara-acara budaya, bukan yang asli, tapi itu duplikat Mahkota Bunokasih, ” terang Luki.
KIsah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake itu sendiri dimulai pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri Raja Sumedang Larang ke 9
Kala itu, pengaruh kekuatan Pajajaran sudah melemah di beberapa daerah termasuk Sumedang.
Baca Juga:
Huawei Digital Power Hadirkan Solusi Multi-Skenario Berbasis Grid Forming dan AI di IDEE 2026
Huawei Hadirkan Stellar AI Campus Network Generasi Baru, Siapkan Infrastruktur Kampus AI
Beberapa daerah dulunya kekuasaan Pajajaran sudah direbut oleh pasukan Surasowan Banten .
Kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran sudah tidak terawasi dan secara de facto menjadi merdeka.
Setelah melihat keadaan Pajajaran yang sudah tak menentu, Prabu Ragamulya Suryakancana memerintahkan empat Senapatinya.
Berangkatlah empat Senapati Pajajaran yang menyamar sebagai Kandaga Lante bersama rakyat Pajajaran yang mengungsi.
Baca Juga:
Clean Bio Korea Bawa Air-Fit yang telah Teruji di Indonesia dalam Ajang Hospital Expo 2026
Dii tengah perjalanan rombongan dibagi dua, ronbongan pertama meneruskan perjalanan ke Sumedang dan rombongan lainnya menuju ke arah pantai selatan.
Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante. Mereka dipimpin oleh Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa.
Mereka adalah Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot yang membawa pusaka Pajajaran
Mahkota Binokasih” yang dibuat pada masa Prabu Bunisora Suradipati (1357 – 1371). Mahkota tersebut kemudian di serahkan kepada penguasa Sumedanglarang.
Pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai raja Sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601),
(Tatahg Tarmedi) ***
Baca Juga:
Huawei Perkenalkan Grid-Interactive AIDC, Bawa Paradigma Baru dalam Infrastruktur AI
IPSI Karawang Sudah Siapkan Pelatih Pencak Silat Berbasis Pedagogik, Kini Semakin Relevan di Sekolah
14th Forum on China-ASEAN Technology Transfer and Collaborative Innovation









