HARIAN KARAWANG — Kebutuhan terhadap pelatih pencak silat yang tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memiliki kemampuan mengajar, semakin mendapat perhatian seiring meluasnya ruang pencak silat di lingkungan pendidikan.
Kondisi tersebut membuat program “Kuliah Pencak Silat” yang dikembangkan IPSI Kabupaten Karawang menjadi semakin relevan. Program ini sejak awal dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membekali guru dan pelatih dengan pengetahuan pedagogik serta metodologi pembelajaran.
Ketua IPSI Kabupaten Karawang, Dea Eka Rizaldi, SH, mengatakan pembinaan pencak silat di sekolah tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kemampuan seorang pelatih dalam melakukan teknik.
Menurut Dea, pelatih yang berhadapan langsung dengan peserta didik harus memahami bagaimana sebuah materi disampaikan sesuai usia, kemampuan, karakter, dan kondisi fisik anak.
“Pelatih pencak silat di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya bisa melakukan teknik. Ia juga harus memahami bagaimana mengajarkan teknik tersebut kepada peserta didik dengan metode yang tepat, aman, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak,” ujar Dea.

Kebijakan SNT Membuat Kebutuhan Pelatih Berkualitas Semakin Penting
Perkembangan tersebut beriringan dengan kebijakan pemerintah melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).
Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi salah satu dasar kebijakan pengembangan SNT.
Dalam konteks pencak silat, kebutuhan terhadap tenaga pelatih yang memiliki kompetensi lebih lengkap menjadi persoalan penting. Pelatih di sekolah bukan hanya dituntut mengajarkan gerakan, tetapi juga harus memahami cara berkomunikasi dengan peserta didik, menyusun latihan, melakukan evaluasi dan memastikan proses pembelajaran berjalan aman.
Karena itu, keberadaan pelatih pencak silat perlu ditempatkan dalam kerangka pendidikan, bukan semata-mata pembinaan prestasi olahraga.
“Kuliah Pencak Silat” Hadir dari Kebutuhan Itu
Gagasan tersebut sebenarnya sudah lebih dahulu diperkenalkan IPSI Kabupaten Karawang melalui program Kuliah Pencak Silat.
Program ini membawa pendekatan bahwa peningkatan kualitas pencak silat harus dimulai dari orang-orang yang mengajarkannya.
Materi pembelajaran tidak berhenti pada teknik dasar atau penguasaan jurus, tetapi masuk ke wilayah yang lebih luas, seperti bagaimana menyusun strategi pembelajaran, memilih model yang sesuai, membuat media pembelajaran, melakukan evaluasi dan merancang program latihan.
Materi yang diberikan dalam program tersebut antara lain:
- Pengertian dan sejarah perkembangan pencak silat.
- Strategi pembelajaran pencak silat.
- Model pembelajaran pencak silat.
- Pengembangan media pembelajaran pencak silat.
- Evaluasi pembelajaran pencak silat.
- Penyusunan program latihan pencak silat.
- Analisis anatomi dan biomekanika pencak silat.
- Analisis jurus tunggal, beregu dan ganda pencak silat.
- Penerbitan sertifikat instruksional bagi guru dan pelatih yang mengikuti program.

Aspek anatomi dan biomekanika juga menjadi bagian penting karena latihan yang diberikan kepada peserta didik harus mempertimbangkan kemampuan fisik serta keselamatan mereka.
Menurut Dea, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya IPSI Karawang menyiapkan sumber daya manusia pencak silat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan pendidikan.
“Kami ingin membangun pola pikir bahwa pelatih bukan sekadar orang yang mengajarkan gerakan. Pelatih juga memiliki tanggung jawab mendidik, membentuk disiplin, memberi motivasi, menjaga keselamatan dan menjadi contoh bagi peserta didik,” kata Dea.

Dari Pelatih Menjadi Pendidik
Masuknya pencak silat ke lingkungan pendidikan juga membawa konsekuensi terhadap cara pembinaannya.
Pencak silat tidak hanya berkaitan dengan pukulan, tendangan, tangkisan, jurus atau pertandingan. Di dalamnya terdapat unsur olahraga, seni, budaya, pendidikan karakter, kedisiplinan, sportivitas, tanggung jawab dan kerja sama.
Baca Juga:
HUAWEI eKit Luncurkan Intelligent Office Solution 2.0, Hadirkan Akses Teknologi Cerdas bagi UKM
Karena itu, proses pembelajaran pencak silat di sekolah membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan latihan yang sepenuhnya berorientasi pada kompetisi.
Pelatih harus mampu menyesuaikan materi dengan kelompok usia. Metode latihan untuk siswa sekolah tentu tidak dapat disamakan begitu saja dengan metode yang digunakan untuk atlet yang sedang dipersiapkan menghadapi pertandingan.
Kemampuan komunikasi juga menjadi penting. Peserta didik membutuhkan instruksi yang mudah dipahami, koreksi yang tepat serta suasana latihan yang aman dan mendidik.
Bagi IPSI Karawang, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peningkatan kapasitas pelatih perlu dilakukan secara sistematis.
“Kalau kita ingin pencak silat berkembang di sekolah, maka yang harus diperkuat bukan hanya jumlah pesilatnya, tetapi juga kualitas guru dan pelatihnya. Anak-anak harus mendapatkan pengalaman belajar pencak silat yang benar sejak awal,” ujar Dea.
Bukan Sekadar Mencetak Juara
Pembinaan pencak silat di sekolah pada akhirnya tidak semata-mata diarahkan untuk mencari juara.
Prestasi tetap menjadi bagian penting, tetapi pendidikan karakter dan proses pembentukan peserta didik juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Pelatih yang memiliki kemampuan pedagogik diharapkan mampu menciptakan latihan yang terstruktur, sesuai usia, aman dan tetap menarik bagi peserta didik.
Di titik inilah program Kuliah Pencak Silat IPSI Kabupaten Karawang menemukan relevansinya dengan perkembangan kebutuhan pembinaan pencak silat saat ini.
Apa yang sebelumnya mungkin terlihat sebagai upaya memperluas materi pelatihan, kini memiliki konteks yang lebih jelas: pencak silat semakin ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Bagi Dea, peningkatan kualitas pelatih merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pencak silat.
“Masa depan pencak silat tidak hanya ditentukan oleh atlet yang berada di gelanggang, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang membimbing mereka sejak usia sekolah. Karena itu, kompetensi teknik dan kompetensi pedagogik harus berjalan bersama,” kata Dea.
Program Kuliah Pencak Silat pun menjadi bagian dari ikhtiar IPSI Kabupaten Karawang untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Bukan sekadar mengajarkan bagaimana seseorang bersilat, tetapi bagaimana pencak silat diajarkan dengan pendekatan pendidikan.
Sebab seorang pelatih yang baik bukan hanya mampu menunjukkan teknik yang benar, tetapi juga mampu membuat peserta didik memahami, mempraktikkan, menikmati dan mengambil nilai-nilai dari pencak silat yang dipelajarinya.












