HARIAN KARAWANG – Suara gong yang bergema di arena Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pelajar IV Tingkat Remaja Provinsi Jawa Barat 2025 tak hanya menandai akhir pertarungan sengit, tetapi juga membuka gerbang air mata haru bagi para pesilat pelajar dari Kabupaten Karawang. Di tengah hiruk-pikuk kompetisi yang diikuti 24 kabupaten dan kota se-Jawa Barat, tim Karawang berhasil menyabet gelar juara umum ketiga. Sebuah prestasi luar biasa yang diraih dengan keringat, darah, dan semangat tak tergoyahkan, membuat para atlet, pelatih, dan manajer tim tak kuasa menahan kebahagiaan.
Bayangkan momen itu: seorang pesilat muda berlari ke sudut lapangan, mengibarkan bendera Karawang dengan penuh kebanggaan. “Saya meneteskan air mata haru saat bunyi gong babak berkumandang dan dinyatakan pesilat Karawang menang,” ungkap Ardawi Sumarno, Manajer Tim IPSI Kabupaten Karawang, dengan suara bergetar. “Daerah tempat di mana mereka dibesarkan ini layak dibanggakan. Para pesilat pelajar kami berjuang sangat maksimal, dan saya patut bangga atas perjuangan mereka.”
Tim Karawang yang dilepas secara resmi pada 22 November 2025 terdiri dari lima atlet tangguh dan enam pengurus. Mereka adalah Sabrina Azizah Zalpa Adrana (Kelas D Putri, Raksa Budhi Karawang), Anisa Nur Noviana (Tunggal Putri, Raksa Budhi Karawang), Mohammad Aldy Diaz (Kelas G Putra, Cakra Buana), Khaerul Anami (Kelas E Putra, Tadjimalela), dan Izat Sahlan Radjatiwishesa (Kelas H Putra, Pusaka Kencana). Mereka didampingi oleh Manajer Tim Ardawi Sumarno, Pelatih Riki Yohanes, Official Badru Maulana dan Gea Revalia Sugianto, serta Peninjau Rayyan Nuryadin. Dengan semangat membara, rombongan ini berangkat untuk mengharumkan nama Karawang.

Hasilnya pun gemilang. Sabrina Azizah Zalpa Adrana meraih juara 1 di Kelas D Putri, Mohammad Aldy Diaz juara 1 di Kelas G Putra, dan Khaerul Anami juara 2 di Kelas E Putra. Dengan raihan 2 medali emas dan 1 medali perak ini, Karawang berhasil mengungguli banyak pesaing dan menyabet juara umum ketiga, di bawah Sukabumi sebagai juara umum pertama dan Bekasi sebagai juara umum kedua. “Mencapai partai final dan meraih medali emas dari 24 kabupaten/kota bukanlah hal mudah,” tambah Ardawi. “Kami berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan agar prestasi pencak silat Karawang terus membaik dari waktu ke waktu.”
Setibanya di Karawang, para pahlawan muda ini disambut hangat oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karawang dalam acara penyambutan sederhana di RM Kampung Kecil Karawang pada Rabu, 26 November 2025. Hadir Ketua IPSI Kabupaten Karawang, Dea Eka Rizaldi, SH, beserta pengurus, atlet, manajer tim, dan pelatih. Dalam kesempatan itu, Dea menyampaikan dukungan penuh: “Saya mendukung dan mengapresiasi anak-anak ini. Perlu adanya dukungan kolaborasi dari berbagai pihak dalam memajukan prestasi IPSI Karawang.”
Tak tanggung-tanggung, IPSI bahkan membiayai sendiri sekitar 17 juta rupiah untuk makan atlet dan official selama lima hari, penginapan, serta transportasi. Selain itu, IPSI juga memberikan uang 3 juta rupiah sebagai kadeudeuh atau bentuk apresiasi kepada para atlet juara dan pelatih yang telah bertugas dengan luar biasa.
Namun, di balik kegembiraan itu, ada pil pahit yang menyayat hati. Penyelenggara kejuaraan, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, hanya menyediakan piala dan uang pembinaan untuk juara umum pertama dan kedua. Juara umum ketiga seperti Karawang dibiarkan pulang dengan tangan hampa, padahal regulasi penyelenggaraan kejuaraan olahraga semestinya mencakup peringkat ketiga. “Sangat sedih dan disayangkan,” kata Ardawi.
Lebih menyakitkan lagi, saat para atlet tiba kembali di Karawang, tidak ada ucapan selamat, pelukan hangat, atau bahkan tepuk tangan dari Disdik Kabupaten Karawang maupun Bupati Karawang. Padahal setiap atlet yang bertanding adalah aset berharga daerah ini, tetapi perjuangan mereka seolah tak terlihat.

“Mudah-mudahan informasinya belum sampai dari Disdik Jabar kepada Disdik Kabupaten,” harap Ardawi. “Harapan saya, perlu diberikan apresiasi kepada setiap anak-anak yang berpotensi serta memberikan yang terbaik untuk Karawang.”
Pertanyaan besar pun menggantung: Di mana peran pemerintah daerah? Mengapa aset muda yang telah mengharumkan nama Karawang dibiarkan tanpa dukungan? Ini bukan sekadar kemenangan olahraga, tetapi pukulan telak bagi Disdik Jabar yang gagal menyusun regulasi adil, Disdik Kabupaten Karawang yang absen dalam penyambutan, dan Bupati Karawang yang seolah tak peduli.
Para atlet ini berjuang demi daerah, namun daerahnya sendiri membiarkan mereka pulang dalam keheningan. Sudah saatnya pemerintah bangun dari tidur panjang—jangan biarkan tangis haru berubah menjadi tangis kekecewaan. Prestasi anak bangsa layak dirayakan, bukan diabaikan. (alam)















