HARIAN KARAWANG – Di sebuah sore yang hangat di Studio Podcast Titik Temu (Jumat, 28 November 2025), Dea Eka Rizaldy, S.H., duduk dengan senyum yang tak pernah benar-benar padam. Usianya masih muda, energinya terasa menular, namun tutur katanya mengalir pelan—seakan menyampaikan sesuatu yang jauh lebih tua dari dirinya.
Di balik sosok cerianya, tersimpan tanggung jawab besar: ia adalah Ketua IPSI Kabupaten Karawang, tanah yang sejak dulu dikenal sebagai rumah para jawara.
“Silat itu bukan sekadar bela diri,” ucap Dea, “itu warisan. Dan warisan itu harus dijaga.”
Kalimat sederhana itu adalah pintu masuk menuju kisah panjang tentang budaya, tanggung jawab, dan panggilan hati.
Darah Jawara yang Menuntunnya Pulang
Dea tidak tiba-tiba jatuh cinta pada pencak silat. Ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan para pesilat, dekat dengan cerita-cerita kepahlawanan yang diwariskan turun-temurun. Di balik garis keluarganya, mengalir darah para pendiri perguruan silat di Jawa Barat.
Ketika namanya muncul sebagai calon ketua IPSI, ia tak sempat banyak ragu. Ada sesuatu yang seolah memanggilnya pulang.
Usianya memang muda, tetapi semangatnya tampak jauh lebih matang daripada angka yang tertera di KTP.
“Saya ingin IPSI ini menjadi rumah yang rapi dan kuat. Silat di Karawang itu besar—sayang kalau tidak dikelola dengan cinta.”
64 Paguron, Satu Keluarga Besar
Karawang memiliki 64 perguruan silat. Angka yang luar biasa besar, tetapi besar saja tidak cukup tanpa kerapihan dan kebersamaan.
Saat awal menjabat, Dea mendapati banyak struktur administratif yang belum tertata. Alih-alih menegur, ia memilih jalan silaturahmi.
Ia mendatangi para guru-guru perguruan satu per satu. Mendengar cerita mereka. Membangun kedekatan.
Baginya, IPSI bukan hanya organisasi—tapi keluarga besar yang harus saling mengenal agar dapat saling menopang.
Atlet-atlet Sunyi yang Mengangkat Nama Karawang
Dea percaya bahwa Karawang memiliki potensi besar dalam dunia olahraga bela diri. Karena itu, ia memperkuat program sparing antarperguruan untuk menemukan bibit unggul. Bibit-bibit yang kemudian dibina, meski dengan segala keterbatasan.
Namun perjuangan itu tidak murah. Anggaran yang seharusnya mengalir tidak selalu datang tepat waktu. Kebutuhan atlet pun tidak bisa menunggu.
Dan Dea mengambil langkah yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar mencintai tanggung jawabnya: ia memakai dana pribadi.
“Lebih baik saya tekor, daripada atlet kita berjuang setengah-setengah. Mereka membawa nama Karawang.”
Hasilnya? Tak mengecewakan. Pada Kejurda Pelajar Jawa Barat, IPSI Karawang meraih:
- Juara Umum 3,
- Membawa pulang 2 medali emas,
- Serta 1 medali perak.
Namun tak ada upacara penyambutan. Tak ada penghargaan resmi. Dea menyampaikan cerita itu sambil tersenyum—tapi senyum yang menyimpan sedikit getir.
“Saya sedih untuk atletnya. Tapi perjuangan mereka tetap luar biasa.”

Silat dan Misi Moral di Era Digital
Bagi Dea, pencak silat bukan hanya soal prestasi. Ia percaya bahwa silat adalah benteng moral bagi generasi muda. Dulu, anak-anak yang ikut pencak silat jarang terlibat tawuran. Nilai-nilai kesopanan, penghormatan, dan pengendalian diri tertanam dalam setiap gerakan.
“Silat mengajarkan kita tiga hal: hormat pada yang di atas, menghargai yang sejajar, dan menyayangi yang di bawah.”
Di era gawai dan hiburan instan, nilai-nilai itu justru semakin dibutuhkan. Ia ingin anak-anak Karawang menemukan kembali identitas mereka di gelanggang latihan, bukan hanya di layar ponsel.
Membangun Kembali Rumah IPSI
Meskipun prestasi datang, Dea merasa pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Ia ingin IPSI menjadi organisasi yang solid, terstruktur, dan harmonis. Ia ingin setiap paguron, besar maupun kecil, merasa dihargai dan diperhatikan.
“Kita harus kuat di rumah sendiri. Dari sana, baru bisa melangkah lebih jauh.”
Dan rumah itu, pelan-pelan, sedang ia bangun dengan ketekunan seorang penjaga warisan.
Napas Warisan yang Tak Boleh Padam
Menutup perbincangan di podcast, Dea kembali tersenyum. Senyum yang bukan sekadar milik seorang ketua organisasi atau politisi. Tapi senyum orang yang sedang merawat pusaka.
Pencak silat adalah warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan Dea percaya: tugas generasi hari ini adalah memastikan napas itu tetap hidup.
Dengan langkah muda dan tekad besar, Dea Eka Rizaldy, S.H. sedang menjaga sesuatu yang lebih dari sekadar budaya—ia menjaga jati diri Karawang. (alam)
Sumber Berita : https://www.youtube.com/watch?v=ZjA1fdbk-FM
















