HARIAN KARAWANG, Rengasdengklok, 8 November 2025 – Meski langit Rengasdengklok diselimuti mendung sejak pagi, semangat para orang tua tetap membara di lantai dua Cafe Teman Nongkrong, Jalan Raya Rengasdengklok, Desa Amansari, Kabupaten Karawang. Di tempat inilah SDIT Bina Cinta Muslim Rengasdengklok sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Training for Parents: Pendidikan Aqil Baligh.”
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dihadiri puluhan orang tua siswa serta masyarakat umum. Mengangkat tema pendidikan aqil baligh, acara ini bertujuan membantu para orang tua memahami tahap kedewasaan anak dari sisi fisik, emosional, dan spiritual — selaras dengan nilai-nilai Islam dan pendekatan psikologi modern.
Acara dipandu langsung oleh Ermaniatu Nyihana, M.Pd., Kepala Sekolah SDIT Bina Cinta Muslim sekaligus moderator. Sosok pendidik inspiratif yang juga penerima beasiswa LPDP dan penulis buku best-seller ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk generasi yang berakhlak dan bertanggung jawab.
“Sekolah dan orang tua harus bersinergi dalam mendampingi anak memasuki masa aqil baligh. Bukan hanya mengenalkan batasan, tapi juga membentuk kesadaran diri dan karakter Islami,” ujar Ermaniatu penuh semangat.
Sementara itu, Ust. Adriano Rusfi, S.Psi., psikolog sekaligus pakar pendidikan remaja, tampil sebagai pembicara utama. Dalam paparannya yang inspiratif, ia menekankan bahwa aqil baligh bukan sekadar perubahan biologis, melainkan proses pembentukan karakter dan tanggung jawab moral.
“Orang tua perlu menjadi teladan dalam pengendalian diri dan komunikasi terbuka. Tantangan terbesar di era digital adalah menjaga keseimbangan antara kebebasan dan bimbingan,” jelasnya.
Suasana diskusi berlangsung hidup. Para peserta aktif berbagi pengalaman dan tantangan dalam mendampingi anak menuju kedewasaan. Meski langit tampak kelabu, antusiasme peserta justru membuat ruangan terasa hangat hingga acara berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.

Salah satu peserta, Masitoh, mengaku bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. “Saya berharap ke depannya ada lagi acara seperti ini. Sangat penting bagi orang tua seperti saya yang memiliki anak menjelang aqil baligh,” tuturnya antusias.
Senada, Wahyu, peserta lainnya, mengungkapkan refleksi mendalam setelah mengikuti pelatihan.“Dari acara ini saya jadi sadar, sebagai orang tua saya harus lebih berhati-hati dan bijak dalam memperlakukan anak-anak saya,” ujarnya.
Acara ditutup dengan pembagian materi saku parenting dan sesi foto bersama. Pihak sekolah berkomitmen menjadikan kegiatan seperti ini sebagai agenda rutin, guna memperkuat sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Harapan kami, semakin banyak orang tua yang terlibat dalam proses pendidikan anak, karena sejatinya pendidikan terbaik dimulai dari rumah,” tutup Ermaniatu Nyihana dengan penuh semangat. (Asep Walam)















