HARIAN KARAWANG, – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan Gerakan Rereongan Poe Ibu tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 149/PMD.03.04/KESRA yang ditandatangani Dedi pada 1 Oktober 2025.
Selian untuk memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Melalui gerakan ini, ASN, pelajar, dan warga diajak menyisihkan Rp 1.000 per hari guna membantu kebutuhan darurat di bidang pendidikan dan kesehatan.
Program ini diapresiasikan oleh kepala sekolah Pejabat Sementara SMAN I Rengasdengklok Agus Tri Setio mengatakan dengan adanya program Poe Ibu , bahwa sekolah sangat mendukung program “Poe Ibu” ini.
Melalui gerakan ini, KDM mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) masyarakat dan pelajar untuk meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial serta memperkuat pemenuhan hak dasar di bidang pendidikan dan kesehatan yang masih terkendala keterbatasan anggaran maupun akses.
“Karena kami rasakan manfaatnya yang luar biasa khususnya untuk warga sekolah. Sebelumnya hal ini SMA Negeri 1 Rengasdengklok sudah melaksanakan dari tahun-tahun, dengan nama program Kesejahteraan (yang dilakukan oleh para guru),” ungkapnya kepada Harian Karawang, Rabu (29/10/2025).
Menurut yang akrab dipanggil Agus program itu merupakan rereongan dari guru, oleh guru, untuk guru. Peruntukannya persis seperti yang disampaikan Gubernur KDM, yaitu salah satunya prioritasnya untuk kesehatan. Cuma yang belum kita fokuskan adalah untuk sektor pendidikan.
Sehingga dengan adanya program ” Poe Ibu” ini tinggal melanjutkan saja, besaran nominalnya sehari seribu.
“Manfaatnya sudah terasa. Ketika ada guru yang sakit, ketika ada keluarganya yang sakit, atau misalnya ada hal-hal yang memang memerlukan bantuan, kami insya Allah bisa dari program kesejahteraan atau namanya sekarang “Poe Ibu,” kata Agus
Lebih lanjut Agus untuk teknisnya, biasanya ada yang dipotong langsung dari gaji. Namun saat ini apabila ada yang mau menyisihkan Rp 1.000 setiap hari, pun tidak mengapa.
Adapun khusus untuk kelas atau siswa membawa kotak khusus “Poe Ibu” setiap hari Senin dan sabtu. Program ini tidak ada paksaan dan bentuknya sukarela, mereka menyisihkan uang jajannya, bersedekah atas dasar kesadaran dan sukarela.
Saat disinggung mengenai pelaporan serta penggunaan dana “Poa Ibu” , kata Agus akan dihitung setelah berkeliling, kemudian dikelola sama bendahara kelas serta akan dilaporkan ke Pembina OSIS atau Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Setelah ada rekening uang uangnya disetorkan.
“Peruntukannya, ketika ada anak-anak yang memang kesulitan, bisa dianggarkan dari situ. Secara prinsip kami mendukung Poe Ibu. Apalagi Kebermanfaatannya luar biasa, bisa saling membantu tanpa memberatkan,” singkatnya.
Adapun manfaat program ini selian buat pendidikan dan kesehatan juga memberikan saran prasarana membelikan sebuah sepeda kepada siswa yang kurang mampu agar berangkat ke sekolah menggunakan sepeda dari hasil Poe Ibu.
“Adapun harapan dari Program i Poe Ibu ni selian menumbuhkan jiwa sosial para siswa dan guru untuk membantu siswa yg kurang beruntung secara ekonomi dan keluarganya, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan merupakan program yang baik dan memiliki tujuan yang mulia,” pungkasnya (Jay)

















