HARIAN KARAWANG – Ratusan pesilat muda dari berbagai unit latihan Perguruan Silat Tadjimalela se-Kabupaten Karawang akan berkumpul dalam ajang Jambore Silat dan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tadjimalela Cabang Karawang Tahun 2025. Kegiatan akbar ini digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 25–26 Oktober 2025, di halaman Kantor Kecamatan Cilamaya Wetan.
Dengan mengusung tema “Kebangkitan dan Semangat Persatuan Menuju Hidup 1000 Tahun Lagi”, acara ini diikuti oleh 150 peserta yang akan menjalani ujian kenaikan tingkat sekaligus memperkuat tali persaudaraan antar anggota.
Ketua Umum PS Tadjimalela Cabang Karawang, Saepudin Lubis, menyampaikan bahwa kegiatan jambore ini bukan sekadar ujian fisik dan teknik, melainkan juga momentum memperkokoh nilai-nilai luhur perguruan.
“Jambore dan UKT Cabang Karawang merupakan upaya peningkatan kualitas. Alhamdulillah, Tadjimalela terus berkomitmen mempersiapkan atlet-atlet berprestasi untuk Kabupaten Karawang. Harapannya, melalui kegiatan ini, Tadjimalela semakin solid dan berkembang di bumi pangkal perjuangan Karawang,” ujar Saepudin.
Selain ujian dan perkemahan silat, kegiatan ini juga akan diisi dengan pentas seni pencak silat, latihan bersama lintas unit, serta pembinaan mental-spiritual yang menjadi ciri khas ajaran Tadjimalela.
Warisan Luhur dari Kang Djadjat Paramour
Perguruan Silat Tadjimalela didirikan pada 14 Agustus 1974 oleh R. Djadjat Koesoemahdinata atau lebih dikenal dengan nama Kang Djadjat Paramour. Nama Tadjimalela diambil dari sosok Prabu Tadjimalela, Raja Sumedang Larang, Jawa Barat, yang memiliki garis keturunan dengan sang pendiri.
Kang Djadjat mendirikan perguruan ini berawal dari keprihatinan terhadap maraknya bela diri asing yang menggeser pencak silat—warisan luhur bangsa Indonesia. Ia bertekad menjadikan pencak silat sejajar, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding bela diri luar.
Melalui doa, tirakat, dan pengembaraan batin, Kang Djadjat memperoleh ilham untuk menamai perguruannya Tadjimalela. Ia menanamkan falsafah “Tadjimalela kudu hirup sarebu taun deui” – Tadjimalela harus hidup seribu tahun lagi.

Falsafah dan Nilai Tadjimalela
Warisan spiritual Tadjimalela dirangkum dalam Panca Darma Tadjimalela, yaitu:
TA – Taklukan nafsu jahat dalam diri
DJI – Djiwa murni pangkal keluhuran budi
MA – Mantapkan rasa penyerahan diri terhadap Tuhan
LE – Lekatkan keberanian di taraf kebenaran
LA – Lapangkan rasa rendah hati di mata kesombongan
Nilai-nilai ini menjadi fondasi bagi setiap anggota Tadjimalela, bukan hanya dalam latihan bela diri, tetapi juga dalam membentuk kepribadian yang berakhlak, berani, dan berjiwa luhur.
Perkembangan Tadjimalela di Karawang
Perjalanan Tadjimalela di Karawang dimulai tahun 1987, digagas oleh Drs. Endang Sobirin dari Rengasdengklok dan Haidir dari Cilamaya—dua mahasiswa IAIN SGD Bandung yang ingin membumikan seni bela diri asli Sunda di tanah kelahiran mereka.
Sejak resmi menjadi anggota IPSI Kabupaten Karawang pada 1992, Tadjimalela Cabang Karawang berkembang pesat dengan puluhan unit latihan (UNLAT) di sekolah-sekolah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. Kini, Tadjimalela telah melahirkan generasi pesilat berprestasi, pelatih tangguh, dan tokoh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai budaya dan spiritualitas.
Semangat Tak Pernah Padam
Melalui Jambore Silat 2025 ini, PS Tadjimalela Cabang Karawang membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal tetap menyala. Sejalan dengan pesan leluhur perguruan:
“Batur usik, urang anggeus” — Ketika orang lain baru bergerak, kita sudah selesai.
Sebuah semboyan yang mencerminkan ketepatan, kesiapan, dan keteguhan dalam setiap langkah seorang pesilat Tadjimalela. (alam)















