HARIAN KARAWANG, – Panen gabah di Desa Mulyajaya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang mencapai di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menjelang berakhirnya musim panen raya. Di tingkat penggilingan padi, harga gabah tercatat berada di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 8 000 per kilogram, melampaui HPP yang ditetapkan sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Pengakuan seorang petani asal Desa Mulyajaya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang Hj Titin Ratna Dewi mengapresiasi langkah pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dengan adanya ketetapan harga gabah secara nasional sebesar Rp 6.500 Perkilogram.dengan adanya harga ketetapan tersebut petani merasakan bahagia harga gabah tinggi.
“Selain itu juga harga gabah yang masih tinggi memberikan keuntungan bagi petani, meski di sisi lain mereka mulai bersiap menghadapi musim tanam berikutnya.”
“Harga sekarang masih bagus, jadi cukup membantu petani. Tapi saat ini kami sudah mulai fokus menyiapkan musim tanam kedua, terutama pengolahan,”ujarnya saat di wawancara oleh HARIAN KARAWANG, Jumat (24/4/2026)
Koodinator Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Kecamatan Kutawaluya Ayat menyebut kondisi harga di lapangan dipengaruhi sejumlah faktor teknis dan cuaca.
“Situasi di lapangan berbeda-beda. Saat panen ramai disertai hujan deras, gabah cenderung basah dengan menggunakan mesin rontog , sekitar Rp 6.700 per kilogram, metode panen juga berpengaruh. Jika menggunakan cara manual biasanya harga lebih rendah, sedangkan dengan combine harvester hasilnya lebih bersih sehingga harganya lebih tingg, sebesar rp 8.000” ujarnya,
Ia menambahkan, dinamika harga gabah tidak lepas dari mekanisme supply dan demand. “Ketika panen sedang ramai, harga biasanya turun. Namun saat panen mulai selesai, harga cenderung naik. Faktor lain seperti curah hujan tinggi yang membuat gabah basah atau kondisi tanaman yang terdampak banjir menjelang panen juga bisa menekan harga karena kualitas menurun,” jelasnya
Menurutnya, kondisi harga yang masih tinggi pada periode Maret hingga Mei cukup berbeda dari pola umum.
“Seharusnya pada masa panen raya harga turun, tetapi saat ini justru masih tinggi karena panen segera berakhir. Ini membuat harga bertahan di kisaran Rp7.500 per kilogram,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan produktivitas musim tanam pertama rata-rata mencapai 7 ton per hektare, namun berpotensi menurun akibat tingginya curah hujan yang terjadi ” katanya ,”
Sementara itu, Dinas Pertanian Karawang Rohman usai mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam kunjungan kerja serta inspeksi gudang beras di Karawang Menteri Pertanian menyampaikan rencana pemerintah untuk melakukan ekspor beras sebanyak 200 ribu ton. Menariknya, Kabupaten Karawang ditetapkan sebagai titik awal pelaksanaan ekspor tersebut berkat keberhasilan dalam mempertahankan status swasembada pangan.
“Hari ini Pak Menteri menyampaikan rencana ekspor beras sebanyak 200 ribu ton. Alhamdulillah, dimulai dari Karawang karena daerah kita dinilai sudah swasembada,” ujarnya.dikutif dari info keadilan Kamis (23/4/2026)
Keputusan ekspor ini diambil lantaran cadangan beras nasional saat ini mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai angka 5 juta ton. Dengan volume sebesar itu, pelepasan 200 ribu ton untuk pasar internasional dipastikan tidak akan mengganggu ketersediaan di dalam negeri.
Masih kata Rohman memberikan jaminan kuat terkait pasokan beras bagi masyarakat. Berdasarkan data dan kalkulasi terbaru, stok yang tersedia saat ini diproyeksikan mampu mencukupi kebutuhan nasional hingga 11 bulan ke depan.
“Stok pangan terbilang aman sampai 11 bulan ke depan karena kondisinya memang sedang melimpah,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa capaian gemilang ini merupakan buah dari sinergi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah, baik dalam hal menjaga produktivitas lahan maupun kelancaran distribusi.
“Dengan pencapaian ini, Pemerintah Kabupaten Karawang semakin optimis dapat terus memperkuat perannya dalam mendukung stabilitas pangan nasional, sekaligus berkontribusi dalam pasar global” pungkasnya, (Jay)








