HARIANSUMEDANG.COM – Cimanggung salah satu wilayah di belahan barat daya Kabupaten Sumedang.
Banyak disebut kawasan industri, karena memiliki karakteristik perekonomian yang lebih dinamis dibandingkan wilayah lain di Kabupaten Sumedang.
Perekonomian penduduk di wilayah ini, bukan hanya dari sektor pertanian. namun juga dari sektor industri pengolahan seperti tekstil, obat-obatan dan garmen.
Di tengah dinamisnya Cimanggung sebagai kawasan industri dan perdagangan, terselip kampung Cigumentong di Desa Sindulang yang banyak disebut sebagai Kampung Adat.
Butuh jalan kaki sekitar 2 jaman untuk bisa sampai di kampung tengah hutan Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi ini.
BACA JUGA:
NS. Aji Martono: Kolaborasi PROPAMI-OJK Percepat Inovasi di Sektor Keuangan
Hanya sepeda motor trail yang bisa nembus kampung Cigumentong, tapi jalan kaki pun bisa menjadi pilihan, sambil sekalian menyatukan diri dengan alam yang ekosistemnya masih terjaga baik.
Perjalanan dari mulai gerbang masuk Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi menuju ke Cigumentong cukup mendebarkan.
Kanan kiri jalan masih berupa hutan belukar, kabut nyaris tak lepas menutupi jalan, dibumbui gemerincik air selokan yang mengalir bening
Sempat dibuat bingung, ada beberapa persimpangan jalan setapak, pilih jalan yang salah, bisa saja akan tersesat di tengah hutan.
Dari jauh terdengar ramai suara gonggongan anjing, tampaknya di areal itu sedang ada perburuan binatang hutan.
Rasa takut menyeruak, bisa saja ada babi hutan ketakutan lari ke arah kami. Untung di tengah kekhawatiran itu, ada seseorang memberi tahu jalan ke Cigumentong.
Cigumentong sekarang dengan Cigumentong sepuluh tahun lalu cukup jauh berbeda.
Dulu, penerangan rumah penduduk masih gunakan listrik tenaga surya, diantaranya bantuan dari Bupati Sumedang Don Murdono dan listrik tenaga surya dari Program Hibah Bina Desa (PHBD) bantuan Unpad.
Sekarang lampu listrik telah terpasang di rumah warga. Tampaknya listrik dari PLN, bukan lagi nyambung dari kantor Pengelolaan Taman Buru Masigit Kareumbi.
Keterpencilan Cigumentong dari pusat kota Kecamatan Cimanggung membuat warga susah ketika dihadapkan pada situasi darurat.
Pemerintah Kabupaten Sumedang pernah bikin rencana untuk pindahkan warga Cigumentong ke satu wilayah di perbarassn dengan kabupaten Garut.
Namun menurut warga, lokasi tersebut tak sesuai dengan keinginan warga, ” Akhirnya, wacana pindah itu hilang dengan sendirinya. Wacana baru muncul, katanya mau dijadikan kampung adat,” kata warga.
Sekitar sepuluh tahun silam, pernah ramai orang bicarakan Cigumentong kaitan dengan prediksi keberadaan harta karun.
Sebagian warga Cigumentong mengakui akan hal itu, kecurigaan peta harta karun itu kebanyakan di dalam kuburan Tuan Block, alias Mr Yansen.
Dia seorang Belanda yang pernah tinggal di Cigumentong hingga meninggal.
Kuburan Tuan Block pernah dibongkar ternyata harta karun itu tidak terbukti, kecuali, dalam kuburan itu hanya diitemukan piring kuno dan pekakas dari keramik.
Tuan Block menurut warga, pernah tinggal di Cigumentong sekitar tahun 1930-an, membuka usaha budidaya tanaman hias.
Usai Perang Dunia II, ia memilih untuk tetap tinggal di Cigumentong, tidak pulang lagi ke negaranya hingga akhir hayatnya, bahkan ada kabar sebelum meninggal, Tuan Block bagikan lahan garapannya ke masyarakat setempat.
Kampung Cigumentong sudah ada sejak jaman Kerajaan Sumedang Larang yang berdiri pada abad ke-15 M.
Kampung Cigumentong bersama kampung tetangganya, yakni Kampung Cimulu dahulu kala merupakan batas dua Kerajaan yang dibangunkan pos penjaga perbatasan. (Tatang Tarmedi)***